Info Karantina
  • Kami tidak mengijinkan sedikitpun segala bentuk pemberian dalam bentuk uang, barang, hadiah, janji, fasilitas dan keuntungan lain dalam pelaksanaan pelayanan karantina pertanian.

Batam Ekspor Kelapa Olahan, Diapresiasi Kementan

Batam Ekspor Kelapa Olahan, Diapresiasi Kementan

Batam – Kementerian Pertanian lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) kembali apresiasi petani dan eksportir di wilayah Batam. Hal tersebut karena, eksportir di Batam kini tidak hanya mengirim kelapa bulat, namun sudah mulai mengekspor hasil olahan kelapa seperti daging kelapa, ampas wangi kelapa, kopra kelapa. “Perkembangan yang baik, sekarang tidak hanya kelapa bulat, Batam bisa ekspor produk olaha kelapa, jika perlu sampai dengan produk jadi,” kata Arifin Tasrif, Sekretaris Badan Karantina Pertanian saat melepas ekspor di Pelabuhan Sekupang, Batam (5/7).

Arifin mengingatkan, pada para eksportir dengan komoditas apapun, sebaiknya dilakukan pengolahan dulu, sehingga margin yang didapatkan bisa lebih besar dan bisa dibagikan ke petani. Barantan dalam hal ini terus mendorong ekspor berbagai komoditas pertanian lewat berbagai program, seperti program Agro Gemilang (Ayo Galakkan Ekspor, melalui Generasi Millenial Bangsa), In Line Inspection, inovasi i-MACE ( _Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports_) dan berbagai regulasi lainnya terkait ketentuan _sanitary and phytosanitary_ (SPS) dari negara tujuan. “Tujuannya adalah untuk memastikan keberterimaan produk kita di negara tujuan,” ungkapnya saat melepas ekspor daging kelapa sebanyak 38,4 ton senilai Rp. 280, 96 juta ke Malaysia.

Menurut Joni Anwar, Kepala Karantina Pertanian Batam, selain daging kelapa, ekspor produk kelapa diantaranya adalah ampas wangi dan kopra. Ampas wangi ( _dried coconut residue_) adalah bahan sisa dari bungkil (batok) kelapa yang digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak, sedangkan kopra adalah daging buah kelapa yang sudah dikeringkan, biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak kelapa. Menurut data yang ada dalam sistem otomasi Barantan (IQFAST), jumlah eksportasi daging kelapa basah pada tahun 2019 (Januari sd Juni) sebanyak 8,97 ton atau senilai Rp. 2,66 M, sedangkan ampas wangi telah dikirim sebanyak 341,4 ton sama dengan Rp. 1,27 M, sedangkan untuk ekspor kopra atau daging kelapa kering total volumenya sebanyak 92, 88 ton yaitu sama dengan Rp. 1,27 M.

Beberapa produk unggulan dari Batam diantaranya adalah cacao, minyak sawit dan turunannya, kelapa dan turunannya, madu dan sarang burung walet dengan negara tujuan diantaranya ke semua benua Asia, Eropa, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Anwar, petugas karantina melakukan tindakan karantina sebelum produk tersebut diekspor, seperti pengawasan perlakuan fumigasi dan foging. “Ini sesuai dengan persyaratan negara tujuan, sehingga dipastikan tidak ada penolakan saat sampai disana,” terangnya. Anwar menambahkan, bahwa memasuki semester pertama tahun 2019, nilai ekspor komoditi pertanian yang diekspor lewat Batam senilai Rp. 3,61 T dengan volume ekspor 229.057 juta kg dan 78.000 M2.

Wakil ketua komisi IV DPR RI, Daniel Johan, S.E., yang juga turut hadir dalam acara tersebut juga menyampaikan bahwa karantina diharapkan dapat menfatilisasi ekspor komoditi pertanian, karena hal tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Ia mengapresiasi Kementan yang terus berkoordinasi dengan isntansi terkait dan negara mitra agar mendorong tumbuhnya ekspor berbagai produk pertanian dari Indonesia.

4

Menurut Arifin, Kementan terus bersinergi dengan pemerintah daerah di Provinsi Kepri yang ada dalam zona perdagangan bebas atau _Free Trade Zone_ (FTZ), Batam bersama dengan Bintan dan Karimun. Menurutnya, dalam meningkatkan trend ekspor komoditas pertanian, Kementan punya 5 upaya strategis yang dilakukan lewat Barantan. Pertama, dengan meningkatkan jumlah eksportir terutama di kalangan Generasi Millenial Bangsa dengan program Agro Gemilang, yang keedua, dilakukan dengan meningkatkan diiversifikasi atau keberagaman komoditas/ produk dengan minimal produk setengah jadi,hal tersebut dikoordinasikan dengan Badan Litbang Pertanian. Strategi yang ketiga adalah dengan menambah/ ekspansi negara tujuan ekspor dengan melakukan harmonisasi aturan atau protokol karantina, dan yang keempat dilakukan dengan mendorong peningkatan jumlah atau volume ekspor komoditas pertanian dengan memberikan aplikasi i-MACE yang diharapkan dapat menjadi landasan kebijakan pembangunan pertanian didaerah serta yang terakhir adalah dengan melakukan terobosan dan inovasi layanan perkarantinaan guna mempercepat proses bisnis eksportasi komoditas pertanian.

Narasumber :
1. Daniel Johan, SE, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI
2. Dr.Ir. Arifin Tasrif, M.Sc., Sekretaris Badan Karantina Pertanian
3. Ir. Joni Anwar, M.MA., Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Batam

#BeraniEkspor #142KarantinaMelayani

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *